3 Aturan Untuk Menghidupkan Sebuah Animasi

Gambar Judul 3 Aturan Untuk Menghidupkan Sebuah Animasi

Bagi kalian para animator, perlu kalian ingat bahwa ada 3 aturan untuk menghidupkan sebuah animasi agar animasi yang kalian buat benar-benar tampak hidup.

3 aturan dasar ini pertama kali diaplikasikan pada film ‘Who Framed Roger Rabbit’, dimana bisa dikatakan bahwa film ini merupakan film animasi dan live shooting tersukses pada masanya. Para animator dari Disney bekerja extra keras pada film ini untuk memperhatikan detail-detail terkecil pada setiap adegan yang ada. Pada era ’60-an sampai ’90-an ada beberapa film yang mencoba untuk menggabungkan animasi dan live shooting, seperti ‘Mary Poppins’ (1964) dan ‘Cool World’ (1992), namun tidak ada yang sedetail dan sehidup ‘Who Framed Roger Rabbit’ (1988).

Berikut ini ke-3 aturan yang dipakai pada film ‘Who Framed Roger Rabbit':

1. Eye Line
Eye line atau bisa juga disebut kontak mata merupakan hal penting dalam animasi. Kontak mata dapat menunjukkan hubungan emosi antara si karakter animasi dan si aktor, selain itu juga sebagai referensi blocking untuk animator ketika menggambar dan untuk meyakinkan para penonton bahwa kedua karakter berada di dimensi yang sama.

2. Physical Interaction
Physical interaction atau interaksi fisik antar karakter dan benda sekitar sangat membantu untuk meyakinkan penonton bahwa mereka berada di dalam dimensi yang sama. Pada film Roger Rabbit, konsep action = reaction = action benar-benar diperhatikan, bagaimana Roger berinteraksi dengan benda sekitar atau ketika karakter Jessica berinteraksi dengan menyelipkan tangannya di jaket Eddie sang aktor utama dan mengambil topinya.

3. Shadow
Shadow atau bayangan (dan pencahayaan) adalah hal penting dalam animasi, terutama jika di dalam film live shooting. Bagaimana bayangan dan pencahayaan dari animasi disesuaikan dengan bayangan dan pencahayaan dari hasil shooting kamera. Pada kasus animasi Roger Rabbit sendiri setidaknya ada 5 layer tambahan untuk bayangan dan pencahayaan untuk menyamakannya dengan hasil shooting. Yang menarik adalah ketika adegan Roger Rabbit sedang berada di dalam sebuah ruangan dengan lampu yang bergoyang, maka bayangan di badan Roger pun ikut bergoyang mengikuti bayangan hasil dari cahaya lampu.

 

Ketika ditanya kenapa banyak film yang menggabungkan animasi dan live shooting hasilnya kurang memuaskan? Richard Williams (animation director) hanya menyebutkan kalau mereka (para animator) di film-film tersebut malas. Di ‘Who Framed Roger Rabbit’ para animator bekerja keras, dua kali lebih keras untuk menghasilkan sebuah film.

Ke-3 aturan di atas sekarang ini merupakan sebuah aturan baku dalam membuat film animasi. Ditambah dengan teknologi yang ada sekarang membuat film animasi dan live shooting menjadi semakin menyatu dan terlihat nyata, penonton bahkan dibuat tercengang dengan hasilnya.

Gambar 'Who Framed Roger Rabbit' karya Richard Williams

‘Who Framed Roger Rabbit’ karya Richard Williams.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>